Jumat, 11 Maret 2016

Aku Lelah ?

Aku beranikan diri menyentuh ujung mataku. 
Entah kenapa terasa ada yang basah di pangkal telunjukku. 
Ku rasakan lagi. Ya, aku menangis..
Lagi-lagi aku menangis untuk suatu alasan yang aku tak mengerti. 
Ah, memang benar, inilah aku, si cengeng yang kadang juga tidak sadar kalau sedang menangis.

Lelah.. mungkin aku lelah pada kenyataan. Tapi sebenarnya kenyataan apa yang aku lelahkan? Rindukah ini namanya? 
Hei, pada siapa aku merindu? Bukan, aku tidak sedang rindu. Aku hanya sedang baca buku. Buku yang mengingatkanku
pada seseorang yang kemarin baru saja menceritakan padaku apa isi buku itu. 
Dan sekarang buku itu di tanganku, di depan mataku. Lalu? Apa ini yang di sebut rindu? Tidak, aku masih ingin mengelak.
Aku cemburu. Mungkin itu kata yang pas. Aku cemburu pada orang-orang berhati ikhlas yang mampu menerima garis hidupnya hingga ia bisa merasakan cintaNya.
Aku cemburu pada angin yang bebas mengalir ke mana saja ia mau. Tapi kemudian aku tahu, anginpun tak sepenuhnya bisa, kadang ia bertarung dengan hujan. 
Baiklah, aku cemburu pada langit luas yang bisa menjadi langit bagi apapun dan siapapun, kapanpun dan di manapun. 
Aku cemburu pada kata-kata yang bisa dengan mudah menyampaikan maksud, tapi aku tak pernah bisa merangkainya bila sudah terjebur di lautan itu. 
Aku cemburu pada apapun yang bisa bahagia dan ikhlas menjalani hidupnya.
Aku ingin seperti itu. Karena dengan keikhlasan aku bisa melanglang buana atas setiap kerinduan. Ikhlas membuatku hanya ingat padaNya. Tapi entah mengapa ikhlas hanya bisa menjadi masalah kata. Sulit sekali menjadi software di hati yang kotor ini. Aku ingin menginstallnya, tapi bagaimana, softwarenya pun aku tak punya.
Aku masih cemburu. Kali ini pada denting jam yang entah kenapa harus berdetak setiap detik. Tak bisakah untuk sekali ini saja bergerak lebih cepat. 
Oh, tidak, kembalikan saja aku pada dua tahun silam. Saat semuanya tidak terjadi dan sekarang aku akan baik-baik saja. 
Hmmm.. Tapi ku rasa permintaanku hanyalah buah ketidakberanian menghadapi hidup. Aku tak berani menghadapi koma dan aku tergesa-gesa untuk sampai ke titik.
Itu pun aku tak berani dan aku juga ingin kembali pada lembar blank. 
Aku lebih tak berani lagi menghadapi enter. Terlalu sakit untuk terjun ke paragraf lain. Aku harus memulainya lagi dan pasti juga harus bisa  mengkolerasikan dengan baik.
Sayangnya, aku harus melewati semua itu. Dengan bermodalkan keberanian minimal, aku berani bertaruh. Tapi kini aku sadar, semua yang aku cemburukan akan semakin membuatku cemburu jika mengetahui satu hal. Ya, aku yang tak berani menghadapi tantangan hidup.

Aku masih lelah.
Aku menangis lagi, kali ini sadar..

Dan aku memang cengeng .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar