Mereka
yang terkadang tidak paham bagaimana harus menghargai seseorang yang memiliki
kepedulian besar terhadap dirinya. Terkadang dalam hidup itu ada beberapa hal
yang mendatangkan kebahagiaan, salah satunya bersama dengan orang-orang yang
memiliki peran besar terhadap kehidupan yang kita miliki, tentu saja saat
ketika sudah merasa nyaman dekat dengan(nya), saling mengerti dan saling paham
satu sama lain ada teriakan kecil yang timbul dari dalam hati, batin mungkin
akan perlahan-lahan mengatakan tolong jangan tinggalkan aku ! Sampai
berulang-ulang hal akan mengatakan(tinggallah disini bersamaku walau sejenak,
bantu aku melewati hari-hariku yang berat).
Mencintai
hal yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan yang kita miliki merupakan hal
yang sangat wajar, jadi ketika muncul sebuah pertanyaan yang mengatakan bahwa
“mengapa kamu mencintai hal itu ?” jawabannya simpel “karena hal itu memberiku
rasa bahagia”. Bahagia tidak hanya bisa diukur dari seberapa sering kamu
tersenyum saja, dari seberapa sering kamu tertawa, tapi bahagia itu adalah saat
ketika kamu mampu bersyukur atas apa yang kamu miliki sekarang. Bahagia tidak
pernah jauh sebenarnya tapi rasa syukurmu itu yang terlalu jauh.
Aku
membenci punggung-punggung yang membelakangiku,,
namun
ketika tiba-tiba dia harus pergi, mereka harus pergi, orang-orang yang kamu
cintai dan orang-orang yang kamu butuhkan harus pergi setelah memberimu sebuah
sapaan bahagia, artinya mereka harus memalingkan wajah mereka dari hadapanmu
lalu memperlihatkan punggung yang mereka miliki apa yang kamu rasakan ?
Kekecewaan
batinku akan menangis, hatiku akan menangis tersedu-sedu lalu
mengatakan(mengapa kedatangannya hanya memunculkan ribuan alasan untuk pergi
meninggalkanku disaat aku sangat membutuhkannya).
Itulah
mengapa aku sangat membenci punggung-punggung yang berbalik membelakangiku. Apa
yang kumiliki bukan hal yang abadi, oleh karena itu (ikhlas) itu harus
kuhadirkan dari dasar hatiku, meskipun aku membenci segala hal yang harus
meninggalkanku, tapi satu hal yang harus tertanam dalam hatiku adalah Tuhan
memiliki rencananya sendiri, kita sebagai seorang manusia hanya bisa
menjalaninya saja.
Sepanjang
peristiwa-peristiwa yang telah kulalui, sampai saat ini aku belum pernah
merasakan bahagia setelah melihat orang-orang yang kubutuhkan memperlihatkan
punggung mereka, satu hal yang kurasakan adalah hanya sebuah rasa (kecewa) tak
ada hal lain, hanya rasa kecewa yang melumuri batinku, hanya kecewa yang
melumuri hati kecilku.
Aku
terkadang berpikir betapa usia 6 tahun kebawah itu sangat kurindukan, saat
dimana keinginan masih kemungkinan besar bisa terpenuhi dengan baik, saat belum
mengerti banyak hal dan saat-saat dimana masalah masih dianggap biasa-biasa
saja, saat dimana penuh dengan pikiran”masa bodoh”. Tapi hal itu juga
biar bagaimanapun tidak akan bisa kembali bukan ?
Aku
membenci punggung-punggung yang membelakangiku, mereka yang tidak paham
betapa seseorang sangat membutuhkannya, dan meraka yang mungkin juga memiliki
alasan kenapa ia harus pergi, mungkin saja tidak merasakan apa-apa, bahkan
tanpa merasa bersalah sedikitpun, bahagia dengan langkah kaki mereka setiap
hari tanpa merasa bersalah sedikitpun dan tanpa berpikir bahwa ada seseorang
yang menangis atas kepergianku, ada seseorang yang tidak menginginkan
kepergianku (alasan ini yang semakin membuatku betapa aku sangat membenci
punggung itu).
Meskipun
mungkin suatu saat nanti akan ada yang merasakan hal yang seperti itu, maka
berpikirlah sedikit untuk berusaha tetap tersenyum dihadapan semua orang,
sedihnya tidak usah dibagi-bagi, kalu bisa yaa disembunyikan saja, bukan rasa
sedih yang harus dibagi, tapi hanya rasa bahagialah yang mesti dibagi-bagi.
Aku membenci punggung-punggung yang membelakangiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar