Jumat, 13 Mei 2016

Aku Membenci Punggung-punggung yang Membelakangiku

Mereka yang terkadang tidak paham bagaimana harus menghargai seseorang yang memiliki kepedulian besar terhadap dirinya. Terkadang dalam hidup itu ada beberapa hal yang mendatangkan kebahagiaan, salah satunya bersama dengan orang-orang yang memiliki peran besar terhadap kehidupan yang kita miliki, tentu saja saat ketika sudah merasa nyaman dekat dengan(nya), saling mengerti dan saling paham satu sama lain ada teriakan kecil yang timbul dari dalam hati, batin mungkin akan perlahan-lahan mengatakan tolong jangan tinggalkan aku ! Sampai berulang-ulang hal akan mengatakan(tinggallah disini bersamaku walau sejenak, bantu aku melewati hari-hariku yang berat).
Mencintai hal yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan yang kita miliki merupakan hal yang sangat wajar, jadi ketika muncul sebuah pertanyaan yang mengatakan bahwa “mengapa kamu mencintai hal itu ?” jawabannya simpel “karena hal itu memberiku rasa bahagia”. Bahagia tidak hanya bisa diukur dari seberapa sering kamu tersenyum saja, dari seberapa sering kamu tertawa, tapi bahagia itu adalah saat ketika kamu mampu bersyukur atas apa yang kamu miliki sekarang. Bahagia tidak pernah jauh sebenarnya tapi rasa syukurmu itu yang terlalu jauh.
Aku membenci punggung-punggung yang membelakangiku,,
namun ketika tiba-tiba dia harus pergi, mereka harus pergi, orang-orang yang kamu cintai dan orang-orang yang kamu butuhkan harus pergi setelah memberimu sebuah sapaan bahagia, artinya mereka harus memalingkan wajah mereka dari hadapanmu lalu memperlihatkan punggung yang mereka miliki apa yang kamu rasakan ?
Kekecewaan batinku akan menangis, hatiku akan menangis tersedu-sedu lalu mengatakan(mengapa kedatangannya hanya memunculkan ribuan alasan untuk pergi meninggalkanku disaat aku sangat membutuhkannya).
Itulah mengapa aku sangat membenci punggung-punggung yang berbalik membelakangiku. Apa yang kumiliki bukan hal yang abadi, oleh karena itu (ikhlas) itu harus kuhadirkan dari dasar hatiku, meskipun aku membenci segala hal yang harus meninggalkanku, tapi satu hal yang harus tertanam dalam hatiku adalah Tuhan memiliki rencananya sendiri, kita sebagai seorang manusia hanya bisa menjalaninya saja.
Sepanjang peristiwa-peristiwa yang telah kulalui, sampai saat ini aku belum pernah merasakan bahagia setelah melihat orang-orang yang kubutuhkan memperlihatkan punggung mereka, satu hal yang kurasakan adalah hanya sebuah rasa (kecewa) tak ada hal lain, hanya rasa kecewa yang melumuri batinku, hanya kecewa yang melumuri hati kecilku.
Aku terkadang berpikir betapa usia 6 tahun kebawah itu sangat kurindukan, saat dimana keinginan masih kemungkinan besar bisa terpenuhi dengan baik, saat belum mengerti banyak hal dan saat-saat dimana masalah masih dianggap biasa-biasa saja, saat dimana penuh dengan pikiran”masa bodoh”. Tapi hal itu juga biar bagaimanapun tidak akan bisa kembali bukan ?
Aku membenci punggung-punggung yang membelakangiku, mereka yang tidak paham betapa seseorang sangat membutuhkannya, dan meraka yang mungkin juga memiliki alasan kenapa ia harus pergi, mungkin saja tidak merasakan apa-apa, bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun, bahagia dengan langkah kaki mereka setiap hari tanpa merasa bersalah sedikitpun dan tanpa berpikir bahwa ada seseorang yang menangis atas kepergianku, ada seseorang yang tidak menginginkan kepergianku (alasan ini yang semakin membuatku betapa aku sangat membenci punggung itu).
Meskipun mungkin suatu saat nanti akan ada yang merasakan hal yang seperti itu, maka berpikirlah sedikit untuk berusaha tetap tersenyum dihadapan semua orang, sedihnya tidak usah dibagi-bagi, kalu bisa yaa disembunyikan saja, bukan rasa sedih yang harus dibagi, tapi hanya rasa bahagialah yang mesti dibagi-bagi.
Aku membenci punggung-punggung yang membelakangiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar